Halaman

Rabu, 07 Oktober 2015

Kecewa

          Sikap adalah bagian dari kenyataan, responbilitas negatif jadi realita yang menyedihkan, diamnya adalah pertanda pasifnya aktivitas, tak ada respon, negatif, sangat mengecewakan.

          Kecewa, harus merubah arah tujuan, perjalanan masih panjang, tapi perasaanku sudah jatuh terpuruk tak tentu arah berserakan berantakan.

          Hanya satu kekuatanku berserah diri hanya pada Allah Azza wa Jalla, insyaallah istiqamah menempuh jalan itu, walaupun aku harus kecewa oleh manusia, tapi kuyakin ini adalah cobaan untuk aku agar jadi kuat dan tabah, nabi Ayub a.s. adalah guru ketabahan hati yang paling patut dicontohi, ketabahan adalah kekuatan jiwa, biarpun sedih dan menderita namun itu adalah jalan wasilah menuju kebahagiaan sejati.

          Kekecewaan ini memang sangat mendalam, belum juga kumulai sudah hendak berakhir, jalan cahaya itu redup pudar menghilang ditelan kegelapan dunia.

          Hanya satu jalan cahaya hati, yaitu menunaikan ibadah-ibadah sunnah Nya, kuyakin tekadku untuk selalu istiqamah menjalankan ibadah salat duha tersebut sudah benar, biarpun keinginan hatiku untuk mencintai dunia terhalang oleh kekecawaan yang paling mendalam, biarlah hanya Allah saja yang menjadi penolongku, menjadi penghiburku, menjadi pembalas cintaku, cintaku yang tak terbalas karena dunia tak mencintaiku, tetapi Engkau Wahai Zat Yang Maha Pencinta adalah sebaik-baik pembalas cinta hatiku.

          Kekecewaan harus aku relakan, aku ikhlaskan, biarlah hanya Allah saja yang membalas perasaan cinta aku terhadap dunia ini, aku ingin menggantinya dengan perasaan cinta terhadap akhirat yang abadi. Kampung keabadian hanya ada cinta Allah dan para pencintanya yang abadi.

          Inilah kekecewaan manusia terhadap dunia, Allah memilihkan kita kebahagiaan, kita memilih kekecewaan dan penderitaan, Allah memilihkan kebahagiaan untuk ummatnya, manusia memaksakan kehendaknya sehingga akhirnya dunia telah mengecewakannya juga, semoga Allah mengangkat ketiadaan hati menuju kesempurnaan bahagia dunia dan akhirat.

Selasa, 06 Oktober 2015

Melamun

Jadi melamun yang kupikirkan hanya dirimu, aku hanya mampu terdiam melihat jauh ke jendela, perasaan ini memukulku membuatku terpuruk terjatuh, di relung hati ini mengapa selalu ada dirimu dipikiranku? Penderitaan ini melemahkanku, menyakiti hatiku, menggerus perasaanku sendiri, hingga kepalaku jadi pusing dan pening.

          Lamunanku beriring sejalan dengan pikiranku yang aktif. Pikiran ini menuju tempat terjauh dan tertinggi, perasaan ini menghempaskannya ke tempat paling terbawah, jadinya hati dan badan ini yang sakit.

          Aku tidak mau melamun, tetapi kenapa hati ini merasa bersedih? bila cinta itu ada kenapa harus sesakit ini? kenapa sulit untuk mengungkapkan bahwa perasaan itu jatuh cinta atau jatuh hati? kenapa begitu sulit untuk mengungkapkannya? dan setelah terungkapkan apakah menjamin untuk tidak menjadi sakit lagi? aku heran dengan pikiran aktif ini?

          Perasaan adalah api, dan api itu cenderung bersifat panas, panasnya api yang mampu membakar apapun yang ada di depannya, aku tak mampu untuk tersenyum, karena senyumku itu tertelan oleh api yang membakar perasaanku jua, aneh untuk apa aku jatuh hati tapi hatiku terbakar olehnya, sangat musykil untuk apa aku jatuh cinta tapi perasaanku terbakar oleh baranya, sangat menyakitkan dan menyulitkan untuk tersenyum bahagia, yang ada hanya penderitaan dan kesedihan belaka. Duhai kekasih ikhlaskanlah hatimu untuk meleraikan api yang membakar ini menjadi penerang yang menghangatkan jiwa.

Kamis, 01 Oktober 2015

Kenangan

          Disaat remaja baru pertama kenal lawan jenis, rasa perasaan gelisah tiada menentu, kehadirannya yang amat menentukan perubahan hati, dialah wanita yang mengenalkanku pada perasaan cinta, dia tidak mengetahuinya, tetapi di hatiku tumbuh perasaan itu, semakin hari semakin kurasakan sesuatu lain bila dia tiada, kalau ada malu mau menyapa juga, padahal di malam harinya sudah bertekad untuk memberikan senyuman termanis kepadanya, namun apa daya, setelah bertemu semuanya berantakan karena malu.

          Kusering memperhatikan wajahnya, tak jemu aku memandangnya, hanya perasaan malu yang menahanku untuk menemuinya atau mengungkapkan suatu perasaan terhadapnya, kesalahan selalu berulang, tiap malam aku memikirkannya, namun setiap ketemu, kelu lidahku untuk mengungkapkannya.

          Di masa lalu, dimana dia ada, hatiku terbatas, namun bila dia tiada hadir, hatiku menjadi hampa, cinta pertamaku adalah dia, dia yang aku kenal kala aku sekolah smp, dia teman sekelas, cantik bak bidadari turun dari kahyangan, dia yang berwajah cantik nan rupawan, melengkapi kehadiran hatiku yang selalu mengingatinya setiap waktu.

          Padahal kalau dipikir hanya karena dia cantik, tidak masuk akal untuk langsung jatuh cinta terhadapnya, tapi begitulah hati, cinta pertama itu lebih berkesan dan tak mudah untuk dapat dihapuskan begitu saja, kekuatan cinta itu abadi, walau terbentang jarak dan waktu, namun rukh hati tak pernah mati untuk mencintainya, dalam kenangan hati, dia cinta pertama aku, dia adalah kawan aku, teman aku, dan boleh jadi perasaan cinta pertama itu tumbuh kembali.

          Kata-katanya itu bak air perhatian yang mengalir ke hati menuju ke relung qalbu menembus ke jantung hatiku. Tak pernah kutahu, dibalik sifat sensitifnya, dibalik wajah galaknya, tersimpan keteduhan hati serta kelembutan perhatian yang dapat melembutkan jiwaku, selain dia adalah wanita pertamaku, aku benar-benar jatuh cinta kepadanya, dan bagaimana itu bisa dijelaskan? itu tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, tapi hanya bisa dirasakan oleh hati yang  sedang dilanda asmara terhadapnya.

          Aneh bin aneh, perasaan itu selalu demikian, tak mudah untuk mengungkapkannya, padahal bila sudah sampai ke sang empunya hati perempuan, perhatian itu meluncur begitu saja tanpa ada yang dapat menghalang. Itulah sebagian misteri rasa, sebagian orang senang mengungkapkannya, sedang sebagian lain lebih senang memendamnya sendirian, mungkin diriku termasuk kategori yang lebih suka memendamnya, karena lidah menjadi kelu rasanya, tak mampu bagaimana cara untuk mengungkapkannya.

          Ketika tahu, bahwa dia cinta pertama itu, sudah banyak mengalami cinta-cinta dengan yang lain, kini kutahu bahwa hatinya memang masih sebaik dulu, penuh perhatian dan penuh kasih sayang menghargai serta menghormati, rendah hati, mandiri, dan tentunya ditempa oleh pengalaman hidup yang keras dan penuh kepahitan.

          Tapi itulah kekuatan cinta pertama tak akan pernah pudar walau jarak waktu memenjarakan ingatan kenangannya, namun air perhatian itu yang dapat menyuburkannya, seperti pohon, bila terus disiram setiap hari, maka pohon tersebut akan kokoh menjulang beserta akar-akarnya, demikian kenangan ingatanku tentang cinta pertamaku terhadap dia, temanku sekelas waktu masih smp.

Sabtu, 26 September 2015

DIAM

         Aku jadi tidak menyukai keramaian,  yang sedang kusukai kali ini hanyalah menyendiri,  merenungi diriku,  menarik hati dari hal-hal yang tak kuingini sendiri,  belajar menyendiri itulah diriku kali ini,  belajar menyendiri untuk terdiam dari keriuhan yang tak begitu penting,  dan ada banyak hati yang kurasakan sakit sendiri,  bila ini adalah proses,  mengapa terasa sekali pengaruhnya itu menusuk ke hati?  Apakah aku sedang bermain hati?  Entahlah hanya Tuhan yang mengetahui apa yang kurasakan ini,  tak tahu apa yang kuketahui,  yang kutahu,  kurasakan perasaan ini menyakiti diriku sendiri,  tapi inilah proses pendewasaan diri,  dimana hati melatih kedewasaan mental dengan perasaan sakit yang tak terperi.

          Aku jadi lebih menyukai diam,  daripada berbicara jujur terus terang apa yang kurasakan ini,  tepatnya aku tidak mengetahui,  mengapa tiba-tiba aku ingin menjadi seseorang yang pendiam,  daripada seseorang yang lebih mudah tercurahkan perasaan hatinya sendirinya.

          Intinya aku ingin menyeimbangkan perasaan hatiku yang hadir dengan pemikiran yang setiap waktu selalu mendominasiku,  ya itulah perasaan,  yang selama ini selalu aku abaikan,  perasaan yang selalu menyelimuti hati manusia,  perasaan yang menyebabkan hatiku bisa tertawa dan menangis,  padahal sebenarnya jarang ataupun tak pernah untuk menangis,  hanya ketika sedang sakitlah aku bisa menangis,  dan itupun sakit yang ditimbulkan oleh suatu perasaan dari dalam hatiku sendiri,  tak mungkin timbul tanpa sebab,  sebab kucinta menimbulkan sakit dan penderitaan yang tiada terperi. 

          Bisakah merasakan perasaan ini tanpa rasa sakit? Bila bisa aku menginginkannya denganmu,  bila tidak bisa,  kuingin kau mengetahui perasaanku ini,  yang sakit perasaan karena kau mengabaikan perasaanku ini.

          Ya sudahlah,  aku hanya ingin terdiam dan ingin sendiri saja merenungi perasaan ini,  yang begitu tiba-tiba menyelimuti seluruh raga dan batinku ini,  aku tidak ingin rasa ini hilang begitu saja,  aku ingin rasa ini menyatu dengan dirimu saja,  aku ingin terdiam,  agar aku merenungi arti kehadiranmu ataupun kehadiranku sendiri,  aku ingin mengetahui apakah perasaan ini benar tidak,  sebab cinta saja belum terjalin,  sakitnya sudah terasa nyata sekali.

          Kerinduan sedikit sekali kusadari,  kecemburuan yang mendominasi,  apakah ini namanya cinta?  yang memaksakan kehendaknya sendiri,  ataukah api cemburu yang membakar dirinya sendiri dengan prasangka syak wasangka,  itulah diriku yang naif dalam mencintaimu,  tanpa sepatah katapun kumampu mengucapkan "kucinta padamu",  hanya kupendam sendiri,  bila kumampu kutitipkan pada ilahi rabbi,  hingga angin kerinduan mampu menyampaikan pesanku ini ke relung hatinya yang terdalam,  bahwa di ruang hatinya simpankan perasaanku untuknya,  bahwa aku mencintaimu karena Allah.  Udah itu aja,  aku hanya ingin jadi pendiam dan penyendiri hanya karenamu,  hanya karena aku ingin memahami dan mengenalimu lebih mendalam lagi.

          Jika kau baca catatanku ini,  ini adalah curahan hati yang kukarang sendiri,  itu kutulis karena aku tak tahan merasakan perasaan sakit yang kurasakan sendiri.  Ini hanyalah curahan hati seorang hamba yang do'if.

Minggu, 12 Oktober 2014

Terdiam

ţęŗdįām dālām ķęşųŋyįāŋ męlępāşķāŋ ķęgāmāŋgāŋ yāŋg ādā.

Sabtu, 27 September 2014

Kontemplasi Manusia

Māŋųşįā ādālāђ māķђlųķ įŋdįvįdų dāŋ māķђlųķ şoşįāl. ķoŋţęmplāşį māŋųşįā dįmųlāį dāŗį dįŗįŋyā şęŋdįŗį, ķęķųāţāŋ įŋgāţāŋŋyā dįmųlāį dāŗį ŗāşā şāķįţ, şędįђ męŋdālām, ķędųķāāŋ yāŋg ţįādā ţāŗā. ŗāşā şāķįţ ђāŋyālāђ pęŗmųlāāŋ ųŋţųķ męlāķųķāŋ pęŗęŋųŋgāŋ męŋdālām, męŋęmųķāŋ jāţį dįŗį yāŋg şęşųŋggųђŋyā męŋyęŋţųђ ķęşādāŗāŋ māŋųşįā męŋgęŋāl ķęşādāŗāŋ āķāŋ ţųђāŋŋyā...  şįāpā yāŋg męŋgęŋāl dįŗįŋyā dįā āķāŋ męŋgęŋāl ţųђāŋŋyā. pęŗjālāŋāŋ māŋųşįā dįįŋgāţķāŋ olęђ ŗāşā ķęşędįђāŋŋyā şęŋdįŗį, ŗāşā şęjāţį ŗāşā ђāţį yāŋg āşlį ŗāşā māŋųşįā yāŋg męŗįŋdųķāŋ ķęђādįŗāŋ ķęţųђāŋāŋ dį ђāţįŋyā şęŋdįŗį. çįŋţā įlāђį ādālāђ çįŋţā yāŋg mųŗŋį dāŗį ķęādāāŋ ķęşādāŗāŋ ŋyā yāŋg mųŗŋį dāŋ ţįŋggį.

jįķā māŋųşįā ţįbā-ţįbā bęŗşędįђ įţų ādālāђ ƒįţŗāђ şębāgāį ķęmāŋųşįāāŋ įţų şęŋdįŗį, pęŋgęţāђųāŋ ųŋţųķ męlęŋyāpķāŋ ŋyā ādālāђ ƒįţŗāђ māŋųşįāwį įţų şęŋdįŗį. ķęşādāŗāŋ māŋųşįā yāŋg mųŗŋį įţų āķāŋ męŋgāŋţāŗķāŋ ŋyā ķę āŗāђ jālāŋ ķęŗoђāŋįāŋ męŋçāpāį ţųђāŋ āllāђ āzzā wā jālā yāŋg dįçįŋţāįŋyā. şębęşāŗ āpāpųŋ ķęşālāђāŋ įŋşāŋ māŋųşįā, ţųђāŋ şęlālų dāpāţ męmāāƒķāŋnya, māŋųşįā įţų şęŋdįŗįlāђ yāŋg męŋyādāŗķāŋ pęŗţāųbāţāŋŋyā ţęŗşębųţ.

bįlā ķįţā męŋgįŋgāţ āllāђ ђāţį męŋjādį ţęŋāŋg, ţęŋţęŗām, bāђāgįā. ķęşędįђāŋŋyā āķāŋ ţęŗāŋgķāţ dęŋgāŋ pęŋgęţāђųāŋ ŋyā āķāŋ ķęţųђāŋāŋ yāŋg māђā ęşā. māђā şųçį āllāђ yāŋg męŋjādįķāŋ ђāţį māŋųşįā bolāķ-bālįķ, dāŋ ђāŋyā ķęįmāŋāŋŋyā lāђ yāŋg męŋgųāţķāŋ ķęţęgųђāŋ āţāş ђāţįŋyā yāŋg bęŗdųķā çįţā ţįādā ųjųŋg.

dį şęţįāp şųdųţ ђāţį yāŋg męŗęŋųŋg ādā pęŋgęţāђųāŋ yāŋg męŋyęlįmųţįnya, dį şęţįāp ķęşędįђāŋ ђāţį māŋųşįā ādā ķębāђāgįāāŋ yāŋg āķāŋ męŋāŋţįŋyā. ķęįmāŋāŋ įţųlāђ yāŋg męŋęgųђķāŋnya.
ţųђāŋ yāŋg ķįţā lųpāķāŋ, mālāђ dįā yāŋg męŋgįŋgāţķāŋ ķįţā, māŋųşįā ādālāђ māŋųşįā yāŋg męmāŋųşįāwį yāŋg męŋgęŋāl dįŗįŋyā, męŋgęŋāl ţųђāŋŋyā, męŋgęŋāl māŋųşįā şębāgāį māķђlųķ yāŋg bęŗşoşįāl dāŋ bęŗmāşyāŗāķāţ, māķā jādįķāŋlāђ ŗāşā ķęşędįђāŋ yāŋg ţįbā-ţįbā ųŋţųķ męŋgęŋāl ţųђāŋŋyā lębįђ bāįķ dāŋ lębįђ męŋdālām ųŋţųķ męŋdāpāţkan ķębāђāgįāāŋ dųŋįāwį dāŋ ųķђŗowį, ķębāђāgįāāŋ dųŋįā dāŋ āķђįŗāţ, şęђįŋggā āllāђ ŗįdђā dāŋ męŗįdђāį ķįţā.
dųŋįā įŋį ђāŋyālāђ şęmęŋţāŗā, ŋęgęŗį āķђįŗāţlāђ ŋęgęŗį yāŋg ķęķāl ābādį şęlāmā-lāmāŋyā, şųdāђ şįāpķāђ bęķāl yāŋg ķįţā şįāpķāŋ ųŋţųķ męŋųjų ķęşāŋā? wāllāђu ā'lam, ђāŋyā āllāђ lāђ yāŋg ţāђų jāwābāŋŋyā yāŋg pāşţį.

yā āllāђ āŋgķāţlāђ şęgālā ķęşędįђāŋ yāŋg męŋįmpā ţįbā-ţįbā, çęŗāђķāŋlāђ pęŋgęţāђųāŋ įlmų yāŋg męŋyęŋāŋgķan dāŋ męmbāђāgįāķāŋ. ķāŗęŋā ђāŋyā dęŋgāŋ męŋgįŋgāţ ŋāmāmų ђāţį įŋį męŋjādį ţęŋāŋg dāŋ ţęŗpųāşķāŋ,  bāђāgįāķāŋ dųŋįā dāŋ āķђįŗāţ ķų dęŋgāŋ şęlālų męŋggemaķāŋ ŋāmāmų dį ђāţįķų. āmįŋ āmįŋ yā ŗābbāl 'alamin

Rabu, 20 Agustus 2014

Kekaguman

ķųmęmāŋdāŋg įŋdāђŋyā çįpţāāŋ ţųђāŋ yāŋg ţęŗųŗāį dālām ālām şęmęşţā įŋį, lāŋgįţ, bųmį, āwāŋ, lāųţ, māŋųşįā, pęŗęmpųāŋ yāŋg çāŋţįķ, şęţįāp ђāţį yāŋg bāįķ ђāţį ādālāђ şųmbęŗ įŋşpįŗāşį ķęķāgųmāŋķų. 

dį ķęįŋdāђān şęmųā yāŋg ādā, ŗāųţ wājāђ yāŋg çāŋţįķ ādālāђ şųmbęŗ ķęįŋdāђāŋ dāŋ ķęķāgųmāŋ yāŋg ţįādā ђęŋţįŋyā, āpālāgį bįlā ђāţįŋyā şųmbęŗ ķębāįķāŋ dāŋ āķђlāķųl ķāŗįmāђ. 

āpā yāŋg ţęŗpāŋçāŗ dį wājāђ ādālāђ gāmbāŗāŋ ђāţį. ķųķāgųmį çįpţāāŋ ţųђāŋ yāŋg įŋdāђ, şępęŗţį ķųķāgųmį wājāђmų yāŋg çāŋţįķ jęlįţā, įţųlāђ męŋgāpā şęlālų ādā jālāŋ ђāţį ųŋţųķ ţęŗţāŗįķ ķępādā dįŗįmų. dįŗįmųlāђ şųmbęŗ ķęķāgųmāŋķų, ŗāşā pęŋāşāŗāŋ įŋgįŋ ţāђų, ķęmāųāŋ, ķęmāmpųāŋ, ķęţęŗpįķįŗāŋ yāŋg ęŋţāђ dāŗį māŋā dāţāŋgŋyā, ţāpį ķųţāђų, įţųlāђ ęķşpŗęşį ķoŋţęmplāşį ķęţįķā ķųmęmįķįŗķāŋmų, āŋţāŗā çāŋţįķ çįpţāāŋ ţųђāŋ dęŋgāŋ çāŋţįķ ķębāįķāŋ yāŋg dįmįlįķį olęђ şęşęoŗāŋg yāŋg bęŗpāŗāş çāŋţįķ jęlįţā, şęmpųŗŋā, ķębāįķāŋ,  ķępįŋţāŗāŋ, ķęįŋdāђāŋ, ādā dį şāţų ŗāųţ wājāђ yāŋg įŋdāђ jųgā męmųjį ţųђāŋ yāŋg ţęlāђ męŋçįpţāķāŋ ķęįŋdāђāŋ įţų.

męŋgęŋālmų ādālāђ įŋdāђ,  męmųlāį męŋgęŋālmų jųgā ādālāђ āwāl ķęķāgųmāŋ ţęŗşębųţ bęŗmųlā dāŋ bęŗşęmį...

şęmogā ųŋţāįŋ ķāţā-ķāţā ķęţųlųşāŋ įŋį, ţęŗţųjų ђāŋyā ųŋţųķ męmųlįāķāŋ dįŗįmų şājā....